Menggenggam Kesadaran

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Biasanya, kalau sedang ‘leyeh-leyeh’ (duduk istirahat nggak ngapa-ngapain), saya berusaha untuk beristighfar, walau seringnya hanya di dalam hati.

Hari ini, mungkin karena bulan puasa, kegiatan bersih-bersih dan beres-beres calon rumah baru, terasa melelahkan sekali.

Sekitar jam 4-5 sore, saya putuskan untuk istirahat sejenak sambil menunggu buka puasa (yang tentu saja masih lumayan lama). Kombinasi lapar, lelah dan ngantuk membuat saya melewati waktu setengah jam lebih dengan kesadaran yang tidak penuh. Konsentrasi sudah sulit dicapai. Sampai akhirnya, muncul kesadaran baru seiring berbunyinya tanda buka puasa melalui speaker masjid terdekat, dan masjid yang agak jauhan dari masjid terdekat, dan juga masjid yang lebih jauh lagi namun suaranya masih terdengar.

Setelah kerongkongan terlewati beberapa teguk minuman, konsentrasi saya lumayan pulih. Disitulah ingatan saya mulai menyadari, bahwa selama kurang lebih setengah jam lalu, bukannya saya berzikir atau istighfar selama istirahat tadi, tetapi justru melafalkan doa mau makan secara terus menerus, hahaha.

Lucu? nggak terlalu lah ya. Justru akhirnya saya khawatir dan takut.

Hanya karena disibukkan oleh urusan dunia saja, kita sudah kesulitan melafalkan zikir atau istighfar. Bagaimana ketika nanti saya atau anda menghadapi sakaratul maut?

Masih mampukah kita mengucap ‘la illaha ilallah’ , sementara kehidupan kita banyak diisi hanya untuk mengejar dunia?

Bisakah kita mempertahankan kesadaraan akan tauhid ketika dijemput ajal, sementara ketika diberi keleluasaan di dunia, kita justru sering menyingkirkan agama? menganggap agama adalah beban, menganggap agama hanya prosesi ritual yang harus dipisahkan dari kehidupan bermasayarakat. Menyelisihi para ulama hanya karena perbedaan pandangan politik, dan sebagainya.

Astaghfirullah hal adziim

Mari kita renungkan sendiri-sendiri dalam diam. Tidak perlu pakai ‘du…du…du…’. Cukuplah Ebiet G Ade saja yang merenung kemudian ber-dududu dudu.

Post Author: Afif

Graphic Designer, Petani Pemula, Blogger kambuhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *